Format masa depan

Hari kamis minggu kemarin sebenarnya saya tidak di haruskan untuk masuk kerja, tapi karena atasan saya meminta untuk ketemuan dan meminta lapaoran tentang perkembangan pekerjaan saya seminggu kebelakang, dengan dengan berat hati senang hati saya pun tetap datang ke kantor, dengan niat setelah meeting  selesai, pun saya akan cabut kembali, hehe..

Setelah meeting selesai, sebagai bentuk apresiasi, atasan saya mengajak saya dan teman satu tim untuk makan bareng, dan ditraktir tentunya..😉

Kalo ada makan bareng, pasti disitu ada canda dan tawa, pun atasan kami menyisipkan kata2 motivasi, motivasi tentang karir, perjodohan [maklum, kami masih pada lajang.. ;)], pendidikan, pokoknya semua yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau masa depan..

Berbicara tentang masa depan, pikiran saya tiba2 melayang beberapa tahun kebelakang,  ketika saya baru saja menamatkan studi S1 dengan mengantongi gelar sarjana. Pada saat acara wisuda selesai saya di cehcar oleh beberapa pertanyaan;

setelah diwisuda kamu mau kemana? mau jadi apa? jadi guru, pengusaha atau apa? sudahkah kamu punya gambaran tentang masa depanmu?

Itulah kira-kira beberapa pertanyaan ibu, ayah, adik, nenek, sanak famili, dan kawan-kawan saya..

Yah, saya ditanya tentang masa depan, yang saya sendiri ga tau apa yang ada di benak mereka tentang masa depan, apakah ia semata-mata sekadar masa setelah masa kini? Apakah di depan masa depan masih ada masa depan lagi? Sejauh mana saya, anda, mereka (kita), bisa mendefinisikan bagian tertentu dari hidup sebagai masa depan? Lalu, absahkah ia dimaknakan sebagai masa depan?

Klo menurut saya, barangkali masa depan merupakan cermin bahwa kita masih memiliki harapan. Apa yang lebih penting daripada harapan? Menurut saya tidak ada, karena harapanlah yang menjadi dasar mengapa kita hidup di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Harapan pula yang menggerakkan setiap orang untuk mau menerima risiko kehidupan, seberapa pun besarnya, karena kita percaya bahwa harapan akan menggantikan semua yang telah kita keluarkan dengan sesuatu yang lebih besar dan berarti.

Dan karena kita tak daya melawan arus kehidupan yang bergerak ke depan, bukan ke belakang, maka mau tak mau kita harus menempatkan harapan itu sebagai sesuatu yang berdiri di depan sana. Dia menanti, menyosong, dan merangkul saat kita berlari, tidak sekadar berjalan, ke depan untuk mengejarnya —sekalipun yang menempatkan masa depan itu kita sendiri. Tetapi, apa benar kitalah yang menempatkan masa depan? Lantas, seberapa percayakah kita kepada kehidupan di masa yang akan datang?

Pertanyaan tentang masa depan ini jadi begitu memusingkan, itu karena saya sendiri bingung apa sebenarnya masa depan itu. Jika ia adalah kehidupan di masa mendatang, kehidupan masa yang manakah itu? Apakah saat ini adalah masa depan saya yang saya pikirkan pada saat saya wisuda dulu? Kalau kita masih bayi, apakah masa depan kita adalah ketika kita menjadi remaja? Kalau kita jadi remaja apakah masa depan itu ketika kita jadi dewasa? Begitu juga kalau kita jadi dewasa apakah masa depan kita adalah ketika kita jadi tua? Kalau begitu, apakah masa depan adalah masa yang kita namakan begitu saja semau kita tanpa pernah kita bisa mendefinisikannya? Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak sempat menjadi remaja, dewasa, dan tua berhubung yang bersangkutan sudah meninggal lebih dulu?

Saya jadi teringat seseorang yang dulu saya kagumi karena kebaikan dan kepintarannya, seorang yang menjadi inspirasi bagi teman2nya. Pada saat diwisuda ia seharusnya duduk tepat di depan saya, karena memang pada saat itu posisi menunjukan prestasi seseorang, yang paling berprestasi, berarti ia berhak duduk di barisan paling depan, namun sayangnya usianya tidak sampai kepada acara wisuda, beberapa hari setelah sidang ia dipanggil oleh yang Maha Kuasa untuk selamanya. Lantas, apakah itu berarti ia tidak punya masa depan?
Sepertinya masa depan itu ternyata memang bukan disini, bukan di dunia fana ini maksud saya, melainkan di sana, di akhirat, dikehidupan yang abadi yang tida akhir, saya meyakini seseorang yang saya kagumi tadi, saat ini sedang menikmati masa depannya, masa depan yang tiada akhir..🙂

Wallahu’alam..

:: Tulisan ini bisa di unduh dimenu/halaman Download :.

About rach

an ordinary man with an extraordinary journey

Posted on April 27, 2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Rach, aku ijin ngelink blog nya ya …

  2. bagus juga tulisannya !..trus dikembangkan ya..:)

  3. Wah… It’s very ispiring to me…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: