Pelajaran Sepanjang Perjalanan

Lampu merah menyala..
Saat itu di perempatan jalan BKR dengan Moh. Toha (Tegal Lega). Bagi sebagian orang, lampu merah adalah musibah, karena harus menghentikan laju kendaraan sementara mereka mungkin harus segera bergegas ke kantor atau tempat kerja. Tapi buat saya, lampu merah adalah ajang untuk istirahat sejenak, mengembalikan energi yang terkuras (mengendarai kendaraan juga melelahkan).

Tiba-tiba ada orang tua mendekati saya dengan mengasongkan peci kosongnya, meminta-minta. “Assalamu’alaikum…” ucapnya. Saya  jawab dalam hati sambil mengangkat tangan kanan pertanda saya mohon maaf karena tidak akan memberikan uang. Dia-pun berlalu dan mendekati pengendara yang lain. Sepintas saya melihat, orang-orang pun mengangkat tangannya, dan itu pertanda dia tidak mendapatkan uang recehan.
“Orang tua yang malas ya Mas,,” tiba-tiba pengendara sebelah saya mengajak berbicara. Saya hanya tersenyum.
“Ucapan Assalamu’alaikum itu untuk menebarkan salam, bukan untuk meminta-minta,” lanjutnya.
“Yah begitulah pak, potret masyarakat kita.” jawab saya lirih.
Sejenak pikiran saya menerawang jauh. Masih banyak orang-orang tua yang sehari-hari hanya meminta-minta dijalanan. Belum lagi yang masih anak-anak bahkan balita. Sungguh ironis negara yang sudah merdeka lebih dari 60 tahun, ternyata masyarakatnya masih bermental pengemis. Memalukan!!! Sehingga, kadang saya tidak pernah memberikan uang kepada pengemis jalanan. Bukan karena pelit atau tidak mau sedekah, alangkah lebih baik jika saya sumbangkan ke lembaga khusus yang menangani orang-orang fakir miskin, seperti : Rumah Zakat, Dompet Du’afa, Rumah Yatim dll (teringat  akan seseorang yang berpendapat sama dengan saya).
Saya menghela nafas panjang, seakan ingin menghilangkan kegundahan di hati…

Sementara lampu merah masih menyala…..
Dari kejauhan terlihat orang tua yang sedang menarik gerobak yang berisi barang-barang bekas. Tampak keringat telah membanjiri tubuhnya meskipun suasana masih pagi. Dari belakang, seorang ibu tua (mungkin istrinya) mendorong gerobak tersebut, sehingga pak tua yang menariknya tidak terlalu kepayahan. Bergetar hati ini menyaksikan pemandangan yang begitu mengharukan dan manakjubkan. Kerja keras dan cinta!!!
“Perjuangan hidup ya Mas,” lagi-lagi pengendara disebelah saya mengajak bicara.
“Setuju pak, sangat jauh bila dibandingkan dengan peminta tadi,” jawab saya.
“Mereka lebih berharga dan mulia. Mereka mendapatkan rejeki dari hasil keringat sendiri, tidak dengan minta-minta,” tambahnya
“Hmm…,” Saya hanya menganggukkan kepala.
Untuk yang ke-dua kali pikiran saya menerawang jauh. Setelah melihat perjuangan seorang pak tua untuk menyambung hidup, pagi-pagi sudah berkeringat menarik gerobak mencari barang-barang bekas. Dengan tidak melihat dari mana mereka mendapatkan barang-barang bekas itu, sungguh pelajaran yang sangat berharga buat saya. Saya jadi malu dengan diri sendiri yang kadang merasa malas ketika hendak pergi bekerja. Padahal bila dibandingkan dengan pak tua itu, sungguh jauh kapasitas pekerjaannya. Tapi sungguh saya melihat sebuah motivasi yang besar dari pak tua itu.
Kemudian dengan istri pak tua yang membantu mendorong gerobak, sehingga pak tua tidak kepayahan, menunjukkan cinta yang tulus dari seorang istri terhadap suaminya. Mereka bersama-sama membangun rumah tengga dalam segala hal. Cinta sejati. Memang, cinta memberikan kekuatan yang maha dahsyat. Cinta memberikan tenaga baru bagi orang yang merasakan dan mendapatkannya. Cinta membangkitkan keikhlasan. Maka benar kata para pujangga, hiasi hidup ini dengan CINTA. Dan memang, Tuhan menciptakan alam ini dengan segala isinya juga dengan CINTA. Terlebih Cinta Tuhan kepada manusia sungguh tak terbatas. Dan sudahkan kita membalas cinta Tuhan kepada kita????

Lampu hijau menyala.
Perlahan Saya jalankan kendaraan saya. Saya hentikan pikiran yang terus melayang, untuk berkonsentrasi dalam mengendarai sepeda motor.

Temans..

Dua potret jalanan yang baru saja saya alami, sungguh banyak mengandung hikmah dan dapat kita jadikan cermin diri kita. Kita seperti apa sekarang??
Apakah kita tergolong orang yang bermental “peminta”, bermalasan tapi ingin mendapatkan sesuatu? Tanyakan pada diri ini.
Sifat dasar yang dimiliki para peminta-minta adalah sifat MALAS. Malas akan membunuh potensi yang dimiliki. Orang jadi tidak kreatif apalagi samapi inovatif. Hidupnya jadi tidak bermanfaat. Dan yang pasti, sifat malas keluar dari fitrah penciptaan manusia dan tidak bertanggungjawab dengan kehidupannya. Malas akan mendatangkan angan yang tiada batas, sehingga orang akan menghalalkan segara cara demi meraih apa yang diangankannya. Dengan demikian malas akan menyuburkan sifat-sifat tercela lainnya. Mencuri, merampok, sampai membunuh.
Hindari malas dengan bersegera melakukan tanpa menunda. Yakin dengan potensi yang dimiliki. Bangkitkan rasa tanggungjawab terhadap kehidupan ini. Ingat, Tuhan tidak sertamerta menciptakan kita, kalau pada akhirnya kita tidak dimintai pertanggungjawaban. Kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupan yang telah Tuhan berikan. Dan kita tidak bisa mengelak dari pengawasan Tuhan Yang Maha Melihat. Setiap gerak-gerik kita per detik, akan terpantau oleh Tuhan dan nanti akan dipertontonkan kepada kita kelak di yaumul akhir. Apakah kita mau, ketika Allah memperlihatkan perjalanan hidup kita, kita sedang bermalasan dan akhirnya mencuri, membunuhm atau perbuatan keji lainnya????

Temans..

Jadilah kita seperti pak tua yang selalu bersemangat menjemput rizki yang telah Tuhan tentukan. Sungguh, betapa dia sosok orang tua yang bertanggungjawab dengan peri kehidupannya. Dia tidak menyia-nyiakan potensi yang Allah berikan. Dia mensyukuri nikmat yang Allah berikan.
Ingat, salah satu wujud bersyukur kita atas nikmat yang Allah berikan adalah kita mampu mempergunakan setiap waktu yang terlewati untuk sesuatu yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Kita akan menjadi bintang jika kita melewati setiap detik kita dengan amalan hasanah yang bermanfaat.

Tidak juga kita menyerah dengan kehidupan ini. Tidaklah Tuhan menguji kita sesaat kita menyatakan diri percaya padanya. Iman ini perlu di uji. Keyakinan ini perlu bukti. Dan ujian dan cobaan adalah cara Tuhan mengevaluasi kadar keimanan kita. Bukankah orang yang pacaran juga suka menguji pasangannya???

Lari dari ujian dan cobaan adalah mental orang-orang MUNAFIK. Menghindar dari masalah (yang kadang belum tentu adanya) adalah mental orang PENGECUT.

Terakhir, hiasi hidup ini dengan cinta yang tulus, cinta kepada Tuhan, cinta kepada keluarga, cinta kepada sesama. Dengan cinta kita akan mendapatkan kekuatan yang maha dahsyat.

Temans..

Masih banyak pelajaran-pelajaran lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ini. Maka benar ketika Allah berfirman, “Iqra, bismirabbikalladzi khalaq”
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Al-Alaq : 1)
Bacalah ayat-ayat kauniyah dan kauliyah Allah, di alam kehidupan ini..


Posted on November 1, 2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. kadang, seseorang perlu ditempa dengan tantangan kehidupan yang terjal agar bisa keluar sebagai pemenang… karna mampu menjadi pejuang bahkan menaklukkan kerasnya dunia

    heum… memang, kefakiran sangat dekat dengan kekafiran

    maka motivasilah diri sendiri untuk tetap menjadi ‘tangan diatas’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: